Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi melontarkan pesan politik tegas menjelang pemilihan umum kilat yang digelar pada 8 Februari. Dalam pidato penutup kampanye pada Jumat, 7 Februari 2026, Takaichi berjanji menjadikan Jepang “lebih makmur dan lebih aman”, termasuk melalui pengetatan kebijakan penyaringan imigrasi.
Berbicara di hadapan ribuan pendukung dalam rapat umum di Tokyo, Takaichi menekankan bahwa pemerintahannya bertekad memulihkan kepercayaan publik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. “Menekan tombol pertumbuhan adalah tugas Kabinet Takaichi. Jepang akan menjadi semakin makmur dan semakin aman,” ujar pemimpin berusia 64 tahun itu.
Ia juga menyinggung kecemasan masyarakat terkait kondisi ekonomi dan masa depan negara. “Tahun ini harus menjadi titik balik untuk mengubah kegelisahan yang dirasakan rakyat menjadi harapan,” katanya di tengah sorak pendukung.
Peluang Kemenangan Telak Sanae Takaichi
Sejumlah survei opini menunjukkan blok pemerintahan yang dipimpin Partai Demokrat Liberal Jepang (LDP) berada di jalur kemenangan besar. LDP diperkirakan dengan mudah melampaui ambang 233 kursi yang dibutuhkan untuk menguasai mayoritas di Majelis Rendah parlemen.
Bersama mitra koalisinya, Japan Innovation Party (JIP), kubu Takaichi bahkan berpeluang mengamankan mayoritas dua pertiga—sebuah capaian yang terakhir kali diraih pada 2017 di bawah pemerintahan mendiang Shinzo Abe, mentor politik Takaichi.
Sebaliknya, koalisi oposisi baru yang dipimpin Constitutional Democratic Party of Japan (CDP) bersama Komeito diperkirakan kehilangan hingga separuh kursi mereka, mencerminkan lemahnya daya tarik oposisi di mata pemilih.
Pengetatan Imigrasi dan Keamanan Nasional
Isu imigrasi menjadi salah satu sorotan utama dalam kampanye Takaichi. Ia menegaskan bahwa prosedur penyaringan pendatang asing telah diperketat untuk mencegah masuknya pihak-pihak yang berpotensi mengancam keamanan nasional.
“Pemeriksaan imigrasi kini sudah lebih ketat agar teroris maupun mata-mata industri tidak mudah masuk,” ujar Takaichi. Ia menambahkan bahwa pemerintah juga akan memastikan kepatuhan pendatang terhadap kewajiban pajak dan pembayaran premi asuransi kesehatan.
Retorika keras ini dinilai berhasil meredam lonjakan popularitas partai populis Sanseito yang mengusung slogan “Japan first” dan sempat meraih hasil signifikan dalam pemilu Majelis Tinggi 2025.
Popularitas dan Citra Unik Sanae Takaichi
Sejak dilantik pada Oktober 2025 sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang, Takaichi menikmati tingkat popularitas yang tinggi, terutama di kalangan pemilih muda. Mantan penabuh drum musik heavy metal yang mengagumi mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher itu bahkan menjelma menjadi ikon gaya dan fenomena media sosial.
Yuka Ando, siswi SMA berusia 17 tahun yang menghadiri rapat umum bersama ibunya, mengaku terkesan dengan sosok Takaichi. “Saya datang hanya untuk melihat langsung. Menurut saya dia luar biasa. Sebagai perdana menteri perempuan pertama, dia terasa istimewa. Berkat dia, saya jadi tertarik pada politik,” ujarnya.
Agenda Ekonomi Ambisius
Dalam pidatonya, Takaichi menekankan bahwa keamanan sosial tidak dapat dipisahkan dari kekuatan ekonomi. Ia menyoroti pentingnya ekonomi yang solid untuk membiayai layanan kesehatan, kesejahteraan sosial, dan pendidikan berkualitas.
“Kesehatan butuh biaya. Kesejahteraan juga butuh biaya. Pendidikan memerlukan investasi besar. Karena itu, kita harus membangun ekonomi yang kuat,” katanya.
Kebijakan ekonominya mencakup paket stimulus senilai US$135 miliar yang bertujuan menopang daya beli masyarakat di tengah tekanan inflasi. Namun, langkah-langkah tersebut juga memicu kekhawatiran di kalangan investor, terutama setelah imbal hasil obligasi jangka panjang Jepang menyentuh rekor tertinggi pada Januari lalu.
Taruhan Politik yang Diprediksi Berhasil
Menurut Dr Jeff Kingston, profesor sejarah di Temple University Japan, keputusan Takaichi menggelar pemilu kilat merupakan perjudian politik yang kemungkinan besar akan membuahkan hasil.
“Ia akan memperoleh mandat yang kuat, bahkan mungkin mayoritas mutlak, yang memudahkannya mendorong reformasi ekonomi dan kebijakan keamanan yang ambisius,” kata Kingston kepada Tuna55.
China Mengamati
Di luar negeri, langkah-langkah Takaichi tak luput dari perhatian China. Dalam dua pekan pertamanya menjabat, ia sempat menyatakan Jepang akan mempertimbangkan intervensi militer jika Beijing berupaya merebut Taiwan dengan kekuatan senjata.
Pernyataan tersebut memicu respons keras dari Beijing, termasuk pemanggilan duta besar Jepang dan peringatan perjalanan bagi warganya. China juga menggelar latihan udara bersama Rusia di sekitar kepulauan Jepang.
Dengan dukungan publik yang kuat dan oposisi yang terpecah, hasil pemilu kali ini diperkirakan akan menentukan arah Jepang dalam beberapa tahun ke depan—baik di bidang ekonomi, keamanan, maupun posisinya dalam dinamika geopolitik kawasan Asia Timur.